Mengenali Kelemahan Diri Manusia dalam al-Qur’an (1)

0
13358
H. Askweni, S.Pd (Ketua Umum DPD PKS Ogan Ilir)

Oleh: H. Askweni,S. Pd (Ketua Umum DPD PKS Ogan Ilir)

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.” (Q.S. Al-Ahzab:72)

Dalam ayat di atas Allah menyebutkan karakter manusia yaitu zhalum (zhalim) dan jahul (bodoh). Zhalum artinya sangat tidak mampu menempatkan sesuatu pada posisi yang benar. Perintah Allah dan Rosul-Nya yang wajib justru ia tinggalkan begitu saja tanpa ada udzur, terlebih perintah yang hukumnya sunnah. Demikian pula larangan-larangan Allah dan Rosul-Nya yang hukumnya haram justru ia terjang terlebih yang makruh. Manusia berjanji untuk siap mengemban amanah yang Allah bebankan kepadanya, namun nyatanya kebanyakan manusia justru menelantarkan amanah tersebut begitu saja.

Adapun jahul memiliki dua pengertian, pertama tidak mempunyai ilmu (bodoh) dan kedua adalah tidak mampu mengendalikan dirinya. Bodoh yang dimaksudkan dalam ayat tersebut tentu saja bukan bodoh tentang ilmu duniawi karena IPTEK yang telah dicapai manusia saat ini sangat luar biasa. Bodoh yang dimaksudkan adalah tidak memahami dan mengerti tentang perintah, larangan dan hikmah syariat Allah dan Rosul-Nya. Ketidaktahuan tersebut mengakibatkan kebanyakan manusia tidak memahami hakekat kehidupan,apa tujuan hidup manusia di dunia dan apa balasan yang akan diterimanya kelak di akhirat dari amal perbuatannya selama di dunia.

Sedangkan maksud dari tidak mampu mengendalikan diri adalah ia tidak mampu mengatur hati, pikiran, hawa nafsu dan anggota badannya untuk berpikir, berkata dan bertindak sesuai tuntunan syariat Allah dan Rosul-Nya. Akibatnya sebagai makhluk Allah yang paling sempurna secara fisik dan mental, manusia justru diperbudak oleh hawa nafsunya. Akal pikirannya dibiarkan lepas kontrol dari bimbingan wahyu, sehingga menjadi akal yang menuhankan kecemerlangan otaknya dan meremehkan syariat Allah. Lafal zhalum dan jahul sendiri adalah bentuk mubalaghah, yaitu gaya bahasa melebih-lebihkan. Artinya kezhaliman dan kebodohan sebagian besar manusia yang tidak menunaikan amanah Allah tersebut adalah sangat parah dan bertumpuk-tumpuk. Na’udzubillahi min dzaalik.

Subhaanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illaa anta wa astaghfiruka wa atuubu ilaika.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.